Abstract

Rural economic role in national economy in the past until now is big enough like seen from the contribution of at earnings of national ( PDB), levying of work field and yield state’s stock exchange, though role of agricultural sector by presentase relative downhill progressively in PDB but absolutely mount to continue. Challenge and problem to face , ad for as producer of PDB, foreign exchange and ready of work field in general still good enough. rural role prospects of big enough rural economics. So that the big potency can be exploited as maximum, needed effort to overcome challenge and problem hindering. in this case college have strategic and big ability to overcome challenge and problem. Role of all important college is in the field of research, education / planning and counselling. but is same job need between government, private sector, society, and college to realize fair rural economics and flatten.

RINGKASAN

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam hal ekonomi pedesaan, terlihat dari luasnya wilayah pedesaan dan banyaknya penduduk yang tinggal di pedesaan dan memperoleh nafkah dari sektor-sektor ekonomi pedesaan.

Ekonomi pedesaan terdiri dari sektor pertanian yang terbagi dalam sub sektor tananaman pangan, perkebunan besar, perkebunan rakyat, peternakan, kehutanan, perikanan, sektor industri yaitu industri kecil dan industri rumah tangga, sektor pertambangan rakyat dan beberapa faktor yang menghasilkan jasa antara lain pariwisata dan perdagangan.

Masalah dan tantangan yang dihadapi ekonomi pedesaan Indonesia cukup besar sehingga hasil dan pemanfaatan dalam perekonomian dan pembangunan Indonesia belum maksimal. Diantara masalah-masalah yang menonjol antara lain adalah tingkat pertumbuhan yang belum optimal, pengembagan teknologi tepat guna, permodalan dan pengembangan prasarana desa, pelestarian dan pengembangan sumber daya alam, kepemilikan lahan dan hasil-hasil produksi ekonomi pedesaan.

Peranan perguruan tinggi dalam pembangunan ekonomi pedesaan itu sendiri adalah dalam bidang penelitian, pendidikan/penyuluhan dan perencanaan. Dalam hal-hal tertentu dan terbatas, perguruan tinggi juga dapat berperan sebagai pelaksana program pembangunan.

KATA PENGANTAR

Limpahan puji syukur kehadirat ALLAH SWT berkat rahmat-Nya, makalah ini yang merupakan tugas akhir dari mata kuliah Berpikir dan Menulis Ilmiah dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Penulis yang mengambil topik “Peranan Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Ekonomi Pedesaan”. Penulis mengambil topik tersebut selain karena menjadi tugas akhir, tentu saja sebagai tolak ukur sejauh mana penulis menguasai materi yang telah diberikan pada mata kuliah Berpikir dan Menulis Ilmiah.

Penulis juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada dosen dan asisten dosen yang telah membimbing dalam pembuatan makalah ini. Serta teman-teman penulis yang turut membantu terselesaikan makalah ini. Dalam setiap penulisan suatu karya tulis, tentunya tiada yang benar-benar sempurna hasilnya, begitupun dengan makalah ini. Penulis menyadari terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, baik dari segi isi maupun dari segi penulisannya. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca agar dalam pembuatan makalah berikutnya dapat lebih baik lagi.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan pengetauhan sekedarnya bagi para pembaca.

M. Rizky Pratama

DAFTAR ISI

Abstract …………………………………………………………………….            …         (i)

Ringkasan ……………………………………………………………………            (ii)

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………..           (iii)

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………            (iv)

Daftar Tabel ………………………………………………………………… (v)

BAB I Pendahuluan ……………………………………………………………………………..            1

1.1  Latar Belakang ……………………………………………………………………            1

1.2  Perumusan Masalah …………………………………………………………….            2

1.3  Tujuan ……………………………………………………………………………….           2

1.4   Manfaat ……………………………………………………………………………..           3

BAB II Pembahasan …………………………………………………………………………………       4

2.1 Masalah dan Tantangan Ekonomi Pedesaan Indonesia  …………………     4

2.2 Peranan Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Ekonomi Pedesaan….10

BAB III Kesimpulan dan Saran ……………………………………………………………   13

3.1  Kesimpulan ……………………………………………………………………….             13

3.1 Saran …………………………………………………………………………………           13

Daftar Pustaka …………………………………………………………………………………….            14

Daftar Tabel

Keadaan Penggunaan Tanah di Indonesia ……………………………………….        9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam GBHN telah dijelaskan bahwa pembangunan pertanian diarahkan  pada berkembangnya pertanian yang  maju, efisien, dan tangguh. Pengertian maju, efisien dan tangguh dalam ekonomi pertanian mencakup konsep mikro dan makro yaitu untuk sektor pertanian sendiri maupun hubungannya dengan sektor-sektor lain di luar sektor pertanian.

Selanjutnya pembangunan pertanian bertujuan untuk meningkatkan hasil dan mutu produksi, meningkatkan taraf hidup petani, peternak dan nelayan, memperluas lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha, menunjang pembangunan industri serta meningkatkan ekspor.

Sementara pembangunan pedesaan merupakan usaha terpadu dan saling menunjang dengan sektor-sektor pertanian, pembangunan daerah dan transmigrasi. Untuk mengembangkan ekonomi pedesaan ke arah pemerataan hasil-hasil pembangunan, perlu lebih ditingkatkan usaha memperbaiki penghasilan kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah seperti buruh tani, petani penggarap, petani berlahan sempit, peternak, nelayan, pengrajin dan lain-lain.

Kebijakan yang memberikan kesempatan lebih besar kepada usaha golongan ekonomi lemah di pedesaan seperti usaha kecil, sektor informal, dan tradisional untuk meningkatkan usahanya, perlu dilakukan dengan memberikan kepastian usaha, memperkuat modal, serta upaya memperoleh pemodal yang sesuai dengan profesi usaha. Upaya ke arah pengenalan sektor-sektor strategis sesuai dengan potensi wilayah desa merupakan upaya untuk memperluas lapangan kerja dan usaha masyarakat guna mengembangkan ekonomi pedesaan.

Perguruan tinggi dituntut peran-sertanya dalam pembangunan pertanian dan pedesaan Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu diciptakan kesesuaian pengembangan ilmu pengetauhan dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat desa, yaitu untuk membantu mereka mengenali dan memecahkan masalah yang sering dihadapi, memberikan motivasi atau dorongan dan menyampaikan inovasi-inovasi agar masyarakat desa lebih mampu melaksanakan pembangunan pertanian dengan baik sehingga mereka dapat menikmati hasil-hasilnya. Langkah-langkah seperti ini perlu dimasukkan dalam pertimbangan membuat ciri khas sebuah perguruan tinggi. Dalam rangka itu perguruan tinggi harus lebih banyak mengerahkan sumber dayanya bagi penelitian dan pengabdian khususnya untuk penyuluhan-penyuluhan pertanian.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan hal-hal di atas, makalah ini berupaya untuk mengkaji permasalahan yang muncul dari peranan perguruan tinggi dalam pengembangan ekonomi pedesaan.

Berikut hal-hal yang akan dikaji:

  1. Masalah dan tantangan yang dihadapi dalam pengembangan ekonomi pedesaan di Indonesia
  2. Sejauh mana peranan perguruan tinggi dalam pengembangan ekonomi pedesaan di Indonesia

1.3 Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, ada beberapa hal yang ingin dicapai diantaranya yaitu:

  1. Mengetauhi hal-hal yang menjadi masalah dan tantangan dalam pengembangan ekonomi pedesaan
  2. Mengetauhi peranan perguruan tinggi dalam pengembangan ekonomi pedesaan

1.4       Manfaat

Melalui makalah ini, ada beberapa hal yang dapat digunakan ke depannya oleh para pembaca dan masyarakat umum, yakni:

  1. Dapat menjadi referensi bagi mereka yang akan melakukan pengamatan ataupun penelitian dengan topik yang berkaitan
  2. Memberikan informasi dan pemahaman kepada para pembaca dan masyarakat umum tentang peranan perguruan tinggi dalam pembangunan ekonomi pedesaan
  3. Menambah khasanah pengetauhan tentang kaitannya perguruan tinggi dengan pengembangan ekonomi di pedesaan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1                   Masalah dan Tantangan Ekonomi Pedesaan di Indonesia

Banyak masalah yang dihadapi ekonomi pedesaan Indonesia belakangan ini. Selain masalah, ekonomi pedesaan Indonesia dihadapkan dengan berbagai tantangan yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri. Hal-hal tersebut yang nantinya dapat menghambat berkembangnya ekonomi pedesaan di Indonesia.

2.1.1 Pertumbuhan sektor-sektor Ekonomi Pedesaan

Akibat adanya penurunan dana pembangunan yang diberikan pemerintah memberikan dampak yang cukup besar pada pertumbuhan sektor pertanian Karena perluasan lahan serta pembangunan prasarana pertanian, seperti irigasi, akses jalan, dan pelabuhan menjadi berkurang.

Meskipun diketauhi banyak peluang untuk mempertahankan pertumbuhan yang cukup tinggi tanpa penggunaan modal yang besar, yakni penggunaan bibit unggul, namun rendahnya tingkat pengetauhan petani, kurangnya penyuluhan, sulitnya pengadaan bibit unggul, dan lemahnya motivasi petani untuk bekerja lebih luas serta sedikitnya  memanfaatkan peluang yang ada, menjadi faktor penghambat pertumbuhan ekonomi tersebut.

Pengaruh pasar dunia menjadi salah satu faktor penting terhadap pertumbuhan komoditi ekspor seperti karet, kopi, minyak kelapa sawit, teh, tembakau, dan lain-lain. Naik-turun harga sering  terjadi dalam komoditas ekspor ini. Selain pengaruh dari ekonomi dunia, seprti resesi, maka pengaruh iklim, hama penyakit dan teknologi produksi yang berbeda  antar Negara, hal-hal tersebut cukup mempengaruhi permintaan terhadap komoditi pertanian Indonesia.

Meskipun peningkatan produksi melalui perluasan lahan telah dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia, namun penyebaran penduduk yang tidak merata mempersulit hal ini.  Kemudian peningkatan produksi melalui intensifikasi pertanian atau penngkatan produktivitas masih diharapkan untuk mempercepat pertumbuhan, tetapi dalam hal ini kendala yang dihadapi masih cukup banyak seperti terlihat dalam Bimas/Insus/Supra Insus pada tanaman padi dan tanaman lainnya.

2.1.2 Pengadaan Lapangan Kerja di Pedesaan

Dengan terbatasnya kemampuan sektor industri dan sektor ekonomi serta sektor-sektor lainnya di perkotaan yang menyediakan lapangan pekerjaan, maka hal tersebut menjadi beban sektor-sektor ekonomi di pedesaan untuk menampung penambahan angkatan kerja di pedesaan. Hal ini lebih jelas terlihat dari angka-angka elastisitas kesempatan kerja untuk sektor industri 0,4; bangunan 0,62; pengangkutan 0,642; jasa 0,512 yang tidak jauh berbeda dengan elastisitas kesempatan kerja pertanian sebesar 0,447.

Di pulau Jawa dan daerah padat penduduk telah terlihat dari perbandingan antara lahan yang tersedia dengan jumlah penduduk yang menurun drastis dan sebagian penduduk sudah kehilangan lahan pertaniannya dan menjadi buruh tani. Tanpa adanya peningkatan produktivitas lahan, maka produktivitas tenaga kerja juga ikut menurun, bahkan dapat menjadi nol, sehingga terjadi pengangguran tak kentara. Akibatnya yang juga sangat penting adalah penurunan tingkat upah pekerja (buruh tani) sehingga memperburuk kondisi distribusi pendapatan (Faisal Kasriyono & Joseph F Stepanik-1985)

2.1.3 Dampak negatif Perpindahan Penduduk dari Desa ke Kota

Urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota dapat memberikan dampak yang positif karena akan mengurangi jumlah penduduk dan penggunaan lahan. Namun urbanisasi juga memberikan dampak negatif, di beberapa wilayah bahwasanya penduduk yang pindah adalah penduduk yang memiliki kepandaian dan berpendidikan tinggi. Sementara yang tinggal di desa hanyalah orang-orang tua, penduduk yang kurang pandai dan berpendidikan rendah. Akibatnya kurangnya tenaga-tenaga muda pembangun desa dan kurang dinamisnya pembangunan desa. Bahkan ada beberapa desa yang menjadi statis dan atau bergerak mundur perkembangannya dan hanya mengharapkan bantuan atau subsidi dari pemerintah dan sanak keluarganya di kota.

2.1.4 Perkembangan Teknologi Tepat Guna

Dalam mengembangkan teknologi dalam bidang pertanian adalah lebih sulit karena teknologi yang dihasilkan haruslah bersifat lokal atau disesuaikan dengan daerah masing-masing. Masalah pengembangan teknologi ini merupakan kendala dalam pengembangan pertanian dalam artian luas karena kemampuan balai-balai penelitian pertanian untuk menghasilkan teknologi yang sesuai dan dalam jumlah yang banyak masih sangat terbatas. Di pihak lain, kemampuan balai-balai penelitian dan tenaga-tenaga peneliti di dalamnya masih minim karena penelitian itu sendiri tidak menjadi prioritas utama dalam pendanaannya dan pengembangannya.

2.1.5 Permodalan dan Pengembangan Prasarana Desa

Kegiatan produksi dan penanaman modal pada masyarakat pedesaan ditentukan oleh keluarganya secara bersama-sama[1].Sebagian besar usaha pertanian adalah usah yang padat modal dan membutuhkan modal yang cukup besar. Namun kenyataannya pihak perbankan swasta sulit untuk memberikan modal atau kredit kepada para petani untuk mengembangkan usaha-usaha pertanian mereka.

Di pihak lain pemerintah pun memberikan bantuan modal atau kredit apalagi dengan syarat yang lunak atau merupakan subsidi, adalah terbatas dibandingkan dengan kebutuhan. Pemerintah pun harus menyalurkan bantuan modal ke pedesaan dalam bentuk perbaikan sarana dan prasarana seperti jalan, saluran irigasi, sekolah atau puskesmas. Namun kenyataannya dalam prioritas pengembangan pedesaan masih di bawah prioritas pengembangan perkotaan. Hal tersebut disebabkan karena suara dan kekuasaan politik penduduk pedesaan kalah kuat dibanding penduduk perkotaan.

Belakangan ini sudah terlihat masuknya modal orang kota atau pengusaha swasta yang menginvestasikan modalnya pada usaha-usaha pertanian di pedesaan. Namun hal ini baru terjadi di beberapa daerah pedesaan yang sarana prasarananya cukup bagus dan usaha-usaha yang dipandang akan mendapatkan keuntungan yang besar. Di lain pihak dengan masuknya pengusaha swasta akan menghambat peluang masyarakat setempat untuk maju karena sumber-sumber produksi seperti lahan, tambak, dan kebun sudah dikuasai orang kota.

2.1.6 Pelestarian dan Pengembangan Sumber Daya Alam

Akibat ketidakberdayaan masyarakat desa atau kesalahan sistem penguasaan lahan yang tidak sesuai, tidak selalu menjamin pelestarian sumber daya alam berjalan dengan baik oleh masyarakat pedesaan.

Sistim perladangan berpindah-pindah masih cukup banyak di Indonesia sekitar 12 juta hektar dan hal tersebut  banyak merusak lahan dengan membakar hutan yang sering terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat yang kurang akan fungsi hutan. Sejalan dengan rusaknya hutan, maka sumber daya air mengalami kekeringan dan sering menimbulkan banjir.

Usaha pelestarian dan pengembangan sumber daya alam seperti reboisasi, penghijauan, reklamasi rawa dan pembuatan tunas-tunas memerlukan biaya yang besar serta dibutuhkan kerja sama antara masyarakat setempat dengan pemerintah terkait. Mungkin banyak pihak yang belum menyadari pentingnya hal ini meskipun sudah mendesak sekalipun.

2.1.7 Pemilikan Lahan dan Sumber Daya Produksi

Di daerah yang padat penduduk, tekanan terhadap kepemilikan lahan ternyata telah menghasilkan suatu proses yang semakin mempersulit berkembangnya ekonomi pedesaan. Di satu pihak, banyak penduduk yang kehilangan lahan dan menjadi buruh tani dengan upah yang semakin rendah. Namun di lain pihak, para pemilik lahan dan tuan-tuan tanah (jika ada) semakin menikmati hasil sewa yang semakin besar. Seperti yang dikemukakan oleh Hayani dan Kikuchi, hal ini akan menimbulkan stratifikasi di antara para petani atas kepemilikan lahan dan dapat menjurus kepada polarisasi lahan.

Tabel 1 Keadaan Penggunaan Tanah di Indonesia Tahun 1980

No Penggunaan Tanah Luas (ha) % dari luas daratan
1 Tanah untuk bangunan dan pekarangan 4.543.416 2,39
2 Tegalan dan kebun 6.410.801 3,37
3 Perkebunan 6.866.792 3,61
4 Sawah (beririgasi) 7.058.950 3,71
5 Ladang/huma 2.481.331 1,30
6 Padang rumput/penggembalaan 2.861.008 1,50
7 Tanah tanaman kayu-kayuan 8.502.184 4,47
8 Hutan (negara dan lain-lain) 113.077.000 59,51
9 Rawa-rawa (tidak ditanami) 6.379.012 3,35
10 Tambak 226.570 0,01
11 Kolam/tebat/empang 224.596 0,01
12 Tanah yang sementara tidak diusahakan 8.127.220 4,27
13 Lain-lain 18.106.677 9,53
14 Lain-lain tidak terdaftar 5.134.450 2,71
Jumlah 190.000.000 100,00

Sumber:

Statistik Indonesia, 1983

Pemilikan lahan perkapita petani kecil rata-rata adalah 0,2 ha, dan luas lahan yang dikuasai petani kecil rata-rata 0,31 ha. Di pihak lain lahan yang dimiliki dan dikuasai petani besar adalah rata-rata 1,66 ha dan 1,68 ha[2]. Pemilikan lahan dan sumber daya produksi yang timpang selain akan menyebabkan masalah sosial dan politik, hal tersebut juga akan merugikan pengembangan ekonomi pedesaan, antara lain penurunan produktivitas lahan dan alokasi dana input yang tidak maksimal pada setiap cabang usaha pertanian.

2.1.8 Perdagangan Hasil-hasil Produksi Pedesaan

Meskipun sudah banyak didirikan KUD di pedesaan yang mandiri dan mampu menjadi lembaga pemasaran yang efektif dan efisien namun masih jarang ditemui. Masalah yang dialami KUD cukup rumit, karena selain ditentukan oleh kemampuan memotivasi masyarakat desa, juga dipengaruhi struktur pasar dan kebijakan pengembangan KUD.

Selain banyak kelemahan yang ada di tubuh KUD sendiri, lembaga-lembaga pemasaran lain terutama yang bergerak di bidang ekspor, masih memiliki kelemahan sehingga menjadi kendala dalam pengembangan  kegiatan produksi.

2.2 Peranan Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Ekonomi Pedesaan

Mengingat banyaknya masalah dan tantangan yang dihadapi dan di lain pihak besarnya potensi ekonomi pedesaan Indonesia, maka pembinaan dalam bidang penelitian, pendidikan/penyuluhan, dan perencanan mutlak harus dilakukan. Melihat terbatasnya kemampuan pemerintah dalam menyediakan banyak dan luasnya pembinaan yang dibutuhkan, bantuan perguruan tinggi sangat mutlak dibutuhkan untuk membantu suksesnya pengembangan pembangunan pertanian di Indonesia.

Agar potensi pengembangan ekonomi pedesaan dapat dikembangkan sebesar-besarnya maka perguruan tinggi memiliki peranan yang sangat besar dalam tiga bidang, yakni bidang penelitian, pendidikan/penyuluhan, dan perencanaan. Dalam hal yang khusus dan terbatas, perguruan tinggi juga dapat berperan dalam pelaksanaan program pembangunan.

(1)    Peranan dalam Bidang Penelitian

(a)         Penelitian bidang teknologi pertanian (budidaya tanaman, budidaya hutan, budidaya ternak, budidaya perikanan, pemuliaan tanaman, tanah, hama penyakit, pengelolaan pasca panen, mekanisasi alat-alat pertanian)

(b)        Penelitian biologi dasar dan bioteknologi (genetika, botani, tissue culture, biokimia, fisiologi)

(c)        Penelitian klimatologi, ekologi, pemanfaatan sinar surya, pemanfaatan limbah, kerusakan hutan dan sumber daya

(d)        Penelitian manajemen, pemasaran, perkoperasiaan, kelembagaan desa, pertanahan, perdagangan internasional

(e)         Peneliti teknologi tepat guna untuk industri, kerajinan dan pembangnan prasarana desa serta pertambangan rakyat

(f) Penelitian faktor manusia, meliputi kesehatan, sosiologi, psikologi, pendidikan, antropologi, hokum untuk meningkatkan produktivitas manusia secara individu dan kelompok, kemampuan bekerja sama dan memecahakn masalah-masalah yang timbul.

(2) Peranan dalam Bidang Pendidikan dan Penyuluhan

(a)  Penyuluhan melalui KKN

(b)   Pendidikan pengetauhan dan ketrampilan-ketrampilan khusus dalam kursus- kursus singkat sampai program Diploma

(c)   Penyuluhan dalam masalah-masalah yang mendesak, seperti penghijauan, reboisasi, pencegahan perusakan sumber daya alam, pencegahan eksplosi hama penyakit tanaman, ternak dan ikan

(d)   Penyuluhan dalam program-program khusus yang dikembangkan oleh suatu universitas sesuai dengan Pola Ilmiah Pokok.

(3) Peranan dalam Bidang Perencanaan

(a)   Bekerja sama dengan badan-badan perencanaan(Bappenas, Bappeda Tk.I, Bappeda Tk.II) dan dinas-dinas Pemerintah dalam perencanaan nasional, regional, propinsi lokal, dan proyek

(b)   Membuat penelitian khusus untuk memasukkan perencanaan seperti model ekonomi makro, table input-output, operation research dan studi kelayakan makro

(c)   Mendidik tenaga-tenaga perencana dengan mengadakan kursus-kursus singkat

(d)   Membantu membuat program komputer dalam perencanaan.

(4) Peranan dalam Bidang Pelaksanaan Pembangunan

Peranan dalam pelaksanaan pembangunan tidak mutlak diberikan kepada pihak perguruan tinggi, tetapi lebih banyak dibebankan kepada masyarakat, pengusaha dan Pemerintah, yakni:

(a)    Ikut dalam program-program khusus dengan beberapa tenaga ahli dari universitas yang diperbantukan secara penuh untuk jangka waktu tertentu

(b)       Menjadi konsultan dalam proyek-proyek tertentu

(c)       Menangani proyek-proyek yang langsung ditangani universitas seperti proyek kebun bibit, pengembangan bibit unggul ternak, pengembangan industri desa, pengembangan KUD, pengembangan pemasaran, dan pengembangan desa secara terpadu.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1       Kesimpulan

Untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan pedesaan, pembangunan pertanian dan pembangunan daerah membutuhkan kerja sama yang saling bersinergi antara ahli-ahli sosial, ahli-ahli budaya dan teknisi yang tersebar di perguruan-perguruan tinggi. Perguruan-perguruan tinggi dalam pembangunan ekonomi pedesaan berperan dalam bidang penelitian, pendidikan/penyuluhan dan perencanaan. Dalam hal-hal tertentu dan terbatas, perguruan tinggi juga dapat berperan sebagai pelaksana program pembangunan. Karena itu peran perguruan tinggi dalam pengembangan ekonomi pedesaan dituntut lebih jauh lagi dari apa yang dimainkan sekarang.

Pembangunan ekonomi pedesaan merupakan bagian terpenting dari pembangunan pedesaan itu sendiri, karena itu sektor-sektor ekonomi strategis yang menjanjikan peluang kerja bagi masyarakat desa perlu ditingkatkan secara terus-menerus. Pengembangan ekonomi pedesaan masih harus diperjuangkan terus-menerus sehingga pemerataan sosial dapat terwujud.

3.2       Saran

Makalah ini hanya berdasarkan pada literatur yang terbatas. Kemudian ditambah dengan sedikit pengetauhan dan pengalaman penulis sendiri sebagai tambahan literatur, sehingga masih kurang aktual dan akurat kebenarannya. Dalam pengembangan ekonomi pedesaan tidak hanya di tekankan pada peran perguruan tinggi saja, namun peran pemerintah, pengusaha/swasta serta masyarakat mutlak dibutuhkan agar terciptanya kemerataan sosial-ekonomi di pedesaan Indonesia.

Daftar Pustaka

Kasriyono Faisal.1984. Proyek Pembangunan Ekonomi Pedesaan Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Kasriyono Faisal, Stepanik Joseph F. 1985. Dinamika Pembangunan Pedesaan. Jakarta: PT. Gramedia.

Sumodiningrat Gunawan. 1987. Prospek Petani Kecil dalam Prospek Pedesaan. Yoyakarta: P3PK UGM.

Yujiro Hayani, Masao Kikuchi. 1987. Dilemma Ekonomi Desa: Suatu Pendekatan Ekonomi terhadap Perubahan Kelembagaan di Asia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.


[1] Faisal Kasriyono, Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan Indonesia, hal. 26

[2] Gunawan Sumodiningrat, Prospek Petani Kecil dalam Prospek Pedesaan, (Yoyakarta: P3PK UGM, 1987) hal. 5

Comments are closed.